Etika Traveling, Etiskah Beri Uang ke Pengemis?

Bagaimana etika umum menghadapi pengemis saat kita traveling? Ini memang persoalan dilematis buat kita.

Di satu sisi, hidup itu harus berbagi, di sisi lain ada ketidakdilan dan kekuatan yang membuat kita sebal di balik dunia pengemis itu.

Suatu waktu, saya traveling ke Swiss, mampir di Bern, Ibu Kota negeri kaya itu. Naik kereta dari Basel, tiba di Bern langsung mencari jalan keluar stasiun.

Satu per satu tangga batu stasiun menuju ke pusat kota itu saya jajaki, dan persis di depan gerbang stasiun ada seorang pengemis pria berdiri menengadahkan tangan. Umurnya sekitar 40 tahunan.

Saya pun merogoh saku, mengambil dua koin masing-masing 1 Swiss Franc (saat itu Swiss belum bergabung zona Schengen). Satu Swiss Franc sama dengan Rp 7.000.

Saat bertemu dengan seorang rekan lokal yang bekerja di televis Swiss, saya bertanya mengapa ada pengemis di negeri super kaya seperti Swiss?

Teman itu malah menyalahkan saya karena telah memberikan uang 2 Swiss Franc. Alasan dia, semua orang miskin dan tidak bekerja di sini mendapat dana jaminan sosial dari pemerintah.

Mereka yang tidak rumah mendapat rumah. Mereka yang tidak punya pekerjaan dicarikan pekerjaan. Pemerintah, kata teman ini, menyediakan lapangan kerja bagi orang-orang ini dengan gaji tinggi, bahkan untuk pekerjaan kasar sekalipun.

”Tapi mereka tidak memanfaatkan itu. Beberapa malah menjadi pemalas dengan meminta uang di jalan. Padahal, mereka sudah diberi banyak kemudahan dan fasilitas,” kata teman itu.

***

Di saat yang lain, ketika traveling ke Edinburgh, Skotlandia, saya juga menemukan sejumlah pengemis di jalan.

Teman lokal sejak awal mengingatkan untuk tidak memberikan uang kepada orang-orang itu. Kebutuhan mereka, kata teman itu, sudah dipenuhi pemerintah. Bahkan, pekerjaan pun sudah disediakan, tetapi mereka tidak mau kerja keras.

Teman ini bercerita, banyak perusahaan yang mengutamakan tenaga lokal untuk sejumlah posisi, dengan gaji lebih tinggi daripada pekerja asing/migran.

Tetap saja, kata dia, mereka tidak berminat melakukan itu. Pada akhirnya, orang-orang Rumania-lah yang mengisinya. Akibatnya, banyak tenaga kerja asing dari Eropa Timur masuk Inggris.

***

Persoalan sama kita hadapi saat melakukan perjalanan ke negara-negara berkembang. Pengemis berkeliaran di sana-sini.

Jika Anda ke New Delhi atau Denpasar atau Manila akan menemukan pengemis yang mengharap belas kasihan Anda.

Malah, di negara-negara ini, banyak pengemis anak-anak. Mereka tanpa sungkan meminta uang kepada Anda.

Ryan Whitney, pakar dan spesialis pembangunan internasional dari San Fransisco, mengaku sangat terpukul dan sedih melihat anak-anak mengemis.

Tapi dia menyarankan untuk tidak memberikan uang kepada pengemis di jalan-jalan, termasuk di negara berkembang. Seperti di India, kata Ryan, anak-anak itu dieksploitasi oleh orang-orang dewasa.

Tenaga anak-anak ini dimanfaatkan orang-orang dewasa yang membentuk mafia-mafia, memperdagangankan anak, menculik anak, dan memperkerjakan mereka secara paksa. ”itu terjadi di India,” kata Ryan.

Di Indonesia dan Filipina pun tak jauh berbeda. Pengemis dewasa dan anak-anak tidak berdiri sendiri. Mereka ada yang menggerakkan.

Setiap hari mereka harus setor ke bos dengan jumlah tertentu. Anak-anak menjadi pion di depan untuk meraup uang yang banyak.

Ada eksploitasi, ada perdagangan manusia, hingga perbudakan pada sistem ini. Tapi, semua itu dibiarkan saja.

***

Belajar dari kasus-kasus itu, saya termasuk menjunjung etika tidak memberi uang kepada pengemis saat traveling (bahkan saat tidak pun).

Tidak semua traveler sepakat dengan ini. Tapi banyak juga yang memiliki kesamaan pandangan dalam masalah ini.

Jadi, semua tergantung Anda tentunya.

3 thoughts on “Etika Traveling, Etiskah Beri Uang ke Pengemis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s