Cinta Bersemi di Bosphorus

Bosphorus (Foto-foto: Elba Damhuri)

Bagi Ahmet Rakiya, anak muda Istanbul yang pernah kuliah di Inggris, Bosphorus memberi kesan sangat berarti. Bosphorus bukan sekadar selat indah yang menjadi tujuan wisata para turis dari berbagai dunia.

Ahmet memang menikmati alunan musik lokal sambil menghirup coklat hangat atau jeruk dingin di kapal feri yang membawanya menyusuri selat, melintasi tempat-tempat indah dan bersejarah.

Ia juga merasakan dinginnya angin Istanbul diselingi tawa dan canda para turis yang tampak begitu kagum melihat Masjid Suleymaniye yang terlihat semakin jauh dari feri.


Atau, Ahmet pun menikmati kegembiraan para pemancing lokal yang melempar umpan dan kailnya dari atas jembatan. Ikan-ikan kecil dan udang menjadi santapan begitu terkumpul banyak. Dengan penuh kenikmatan, para pemancing kebanyakan membakar dan menyantap langsung ikan dan udang itu sambil melihat-lihat lalu lalang turis.

Beberapa pemancing menjual hasil pancingannya dan membakarnya di situ juga. Kadang, bersama pembeli yang kebanyakan turis, pemancing pun ikut makan bersama.

Bosphorus membelah Istanbul menjadi dua bagian: satu bagian yang dekat dengan Eropa dan memang menjadi bagian Eropa. Kedua, Istanbul milik Asia. Ada sensasi dua budaya, dua tradisi, dan dua kehidupan yang berbeda di sini.

Warga di jembatan Bosphorus

Jika di belahan Eropa orang-orang Turki begitu terlihat sibuk dan sedikit menyebalkan saat berlalu lintas, di bagian Asia, wajah-wajah itu tidak terlalu tampak.

Dengan menumpang feri, kita bisa merasakan sensasi dua benua tadi. Perjalanan yang tidak hanya melulu tentang wisata, tetapi juga sejarah panjang peradaban manusia yang sampai sekarang belum berakhir.

Jika Istanbul Eropa begitu padat dan sesak, maka yang Asia sedikit lenggang dan bersih. Persamaannya: kedua-duanya tetap menjadi tempat favorit wisata.

Ahmet melihat Istanbul dan Bosphorus tidak cuma soal-soal dunia dan sejarah. Bukan njuga tentang bangunan-bangunan bersejarah dan gedung-gedung modern simbol kemakmuran dan kebangkitan bangsa Turki.

”Bosphorus adalah tempat terindah yang terus membangkitkan rasa cinta saya ketika pelan-pelan redup….” kata Ahmet.

Tak ada manusia yang sempurna. Begitu Ahmet bicara.

”Ketika saya merasa jauh dari Tuhan, saya datang ke sini. Kekaguman saya yang tak terhingga atas keindahan Bosphorus membuat saya merasa kecil di hadapan Tuhan…. Di situlah cinta bersemi, cinta manusia kepada penciptanya….”

Mengitari Bosphorus bisa dengan bis ini juga.....

Ahmet —suatu ketika di musim gugur di Newcastle, Inggris— bercerita kepada saya, buat orang Turki seperti dia, gaya hidup Barat sudah melekat: seks bebas, minum alkohol, dan tidak pernah shalat ataupun puasa menjadi hal biasa.

Di Selat Bosphorus, kata Ahmet, dia selalu menemukan keindahan lain dari semua tawaran duniawi itu: cinta kepada Sang Pencipta.

3 thoughts on “Cinta Bersemi di Bosphorus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s