Menyusuri Desa Kecil Zurich

Foto by Elba Damhuri

Di kota Zurich, Swiss, ada satu kawasan yang disebut ‘desa kecil’ yang menjadi salah satu pilihan utama para turis mancanegara dan lokal untuk dikunjungi. ‘’Bangunan di sana masih asli peninggalan tahun 1500-an dan makanan yang ditawarkannya pun khas Swiss,” kata Oliver Guggisberg, petugas Hubungan Media Kantor Pariwisata Zurich saat berbincang dengan saya di Zurich.

Biasanya, pada setiap akhir pekan kawasan desa kecil dikunjungi banyak orang Swiss untuk sekadar mengenang masa lalu sambil makan atau sekadar jalan-jalan. Turis-turis dari Asia dan negara-negara lainnya pun menyukai daerah yang letaknya tak jauh dari Stasiun Kereta Zurich itu. Di saat Piala Eropa 2008 lalu, ribuan suporter selalu datang ke sana setiap harinya.

Suporter atau turis yang ingin mencoba masakan asli Swiss yang ada hanya di musim dingin saja, disebut fondu, bisa mendapatkannya di sana. Sebuah restoran bernama Swiss Chuchi menyediakan menu fondu setiap harinya. Fondu ini masakan sejenis sop yang dicampur keju.

Oliver mengatakan turis-turis dari Jepang dan Asia lainnya sangat menyukai masakan ini dan mereka datang ke ‘desa kecil’ untuk mendapatkannya. ‘’Setiap hari restoran selalu dipenuhi pengunjung dan banyak dari mereka yang memesan fondu, termasuk para suporter sepak bola dari berbagai negara Eropa,” katanya.

Kawasan ‘desa kecil’ ini terbentang dari jalan Niederdorf sampai Oberdorf yang berjarak hanya 400 meteran dari Stasiun Kereta Zurich. Hanya butuh 10-15 menit berjalan kaki untuk sampai ke sana dari stasiun kereta. Panjang jalan ini tidak lebih dari dua kilometer yang di sebelah kanan-kirinya berderet toko-toko, rumah makan maupun kafe dan bar.

Belanja suvenir dan pakaian di sini lebih murah dibandingkan di kawasan Bahnhofstrasse, di pusat kota Zurich. ‘’Meski tidak selengkap Bahnhofstrasse, namun barang-barang di sana cukup representatif untuk dibawa sebagai oleh-oleh,” kata Oliver sambil menghirup kopi panasnya di kafe Schwarzenbach di ‘desa kecil’.

Seorang pria tua, James Gluetter, yang juga menikmati kopi di kafe itu, mengaku sejak kecil sudah mengenal kawasan itu. Sampai saat ini, ia mengatakan tidak ada yang berubah dari segi fisik bangunan maupun suasana jalannya. ‘’Mungkin hanya cat-cat bangunan saja yang diperbaiki. Lainnya tidak,” kata James yang juga menyebut warung kopi Schwarzenbach termasuk yang tua, sejak 1864.

James menyebut satu tempat yang tergolong baru di kawasan itu, yakni klub penari telanjang yang ada di tengah ‘desa tua’ itu. ‘’Ketika saya kecil, itu belum ada, atau mungkin saya yang begitu tidak perhatian. Tapi sekarang ramai dikunjungi orang terutama turis dari Asia dan sekarang ditambah suporter sepak bola,” katanya sambil menyebut sejumlah negara seperti Jepang, Cina, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Zurich boleh tampil sebagai salah satu kota bisnis tersibuk di dunia, sejajar dengan New York, London, ataupun Tokyo. Namun itu tidak menghalangi pemerintah setempat untuk menjaga keutuhan lingkungan di sana, termasuk keberadaan ‘desa kecil’ atau ‘small village’ yang masih terjaga di jantung kota itu. Desa kecil yang memberikan hasil besar.

Penulis: Elba Damhuri

5 thoughts on “Menyusuri Desa Kecil Zurich

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s