Bebaskan Dawit Isaak……

Menjadi jurnalis jelas penuh risiko. Diculik, di penjara, dan mati tanpa sebab jelas, seolah merupakan teman seiring para jurnalis, terutama di negara-negara berkembang dan konflik.

Dawit Isaak masuk di dalam itu. Ia seorang jurnalis kelahiran Eritrea berkewarganegaraan Swedia pemilik koran Setit di Eritrea. Pemerintah fasis Presiden Isayas Afewerki menahan Dawit tanpa ada pengadilan dari 2001 hingga saat ini.

Tak ada yang tahu nasib Dawit saat ini yang sempat bekerja sebagai petugas kebersihaan di Swedia itu. Apakah dia sudah mati atau masih hidup, semua ditutupi rezim pemerintah saat ini.

Dawit hijrah ke Swedia menyusul pertempuran yang meletup antara pemberontak dan pemerintah pada 1987. Pada 1992, ia mendapat kewarganegaraan Swedia. Ia menjadi tenaga cleaning service untuk memenuhi hidupnya.

Ketika Eritrea merdeka pada 1996, Dawit kembali ke negaranya. Ia menjadi pelopor munculnya media massa yang independen. Buat Dawit, masyarakat masih bisa mentoleransi kelaparan dan masalah lain dalam rentang waktu panjang. Tetapi rakyat tidak bisa lagi mentoleransi tidak hadirnya keadilan dan pemerintahan yang baik dalam kehidupan bernegara.

Dawit menampilkan berita-berita kritis terutama kepada pemerintah pimpinan Afewerki. Pada Mei 2011, Grup 15 yang terdiri kaum reformis Eritrea mempublikasikan surat terbuka kepada pemerintah menuntut reformasi, demokratisasi, dan investigasi terkait perang dengan Ethiopia.

Setit, koran Dawit, menerbitkan surat terbuka itu. Pemerintah bereaksi keras, menutup media massa independen dan semua kehidupan masyarakat sipil di Eritrea.

Pada 23 September 2011, politisi yang tergabung di Grup 15 ditahan, termasuk Dawit dan 13 jurnalis maupun editor lainnya. Mereka ditahan tanpa melalui pengadilan, dengan tuduhan membahayakan keamanan negara, menjadi penghianat, dan menerima uang dari luar negeri. Empat jurnalis yang ditahan meninggal di penjara.

Dawit sempat dibebaskan pemerintah fasis Eritrea atas usaha advokasi Swedia. Namun, dalam perjalanan pulang, ketika Dawit sedang mengabari keluarganya, aparat Eritrea kembali menangkapnya.

Pada Desember 2008, dilaporkan, Dawit dipindahkan ke penjara dengan tingkat keamanan maksimal di Embatlaka, bersama 112 tahanan politik lainnya. Penjara ini dikenal sebagai penjara dengan lingkungan paling mengerikan di Eritrea.

Pada 2009, Dawit dipindahkan lagi ke rumah sakit militer, di mana pemerintah setempat menjamin kembali bahwa Dawit masih hidup. Selama penahanan kedua sampai sekarang, tak seorang pun dari keluarga Dawit maupun para pembela bisa berhubungan dengan Dawit. Semua akses ditutup, termasuk telepon.

Presiden Afewerki menegaskan, dia tidak akan membebaskan Dawit dan tidak akan menggelar sidang di pengadilan atas kasus Dawit. ”Kami tahu cara menangani dia,” tegas Afewerki.

Banyak kalangan percaya, Dawit Isaak sudah dibunuh rezim Afewerki. Ada juga yang masih meyakini, Dawit masih hidup.

Perjuangan Dawit tersebut membuat Organisasi Surat Kabar se-Dunia dan Forum Editor International (WAN IFRA) menganugerahkan Pena Emas, yang diserahkan kepada kakak Dawit pada Kongres WAN IFRA di Wina, Austria, 13 Oktober 2011.

Hanya tangis yang keluar ketika Jacob, kakak Dawit, menerima penghargaan itu. ”Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi….” Jacob mundur dari podium, sesunggukan, menangis.

Para wartawan di dunia terus menekan Pemerintah Afewerki membebaskan Dawit. Usaha-usaha terus dilakukan dengan berbagai cara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s